Tampilkan postingan dengan label BEE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Oktober 2010

FREZZ

Minum Zamzam Sembuhkan Sakit dan Kuatkan Hafalan

E-mail Print PDF
Para ulama memperoleh kesembuhan dan kepandaian setelah berdoa saat meminum air Zamzam.
Hidayatullah.com--Suatu saat, Ibnu Mubarak mendatangi mata air Zamzam untuk minum. Tidak begitu saja meminumnya, namun beliau menghadap ke Ka’bah. Kemudian beliau berdoa, ”Ya Allah, sesungguhnya Abnu Abi Al Mawali mengisahkan kepada kami dari Muhammad bin Al Munkadar dari Nabi Shalallallahu Alaihi Wasallam, sesungguhnya beliau bersabda, ’Air Zamzam untuk apa-apa yang diniatkan untuk meminumnya.’ Dan saya meminumnya agar terhindar dari kehausan di hari kiamat.” Kemudian Ibnu Mubarak meminumnya. (Riwayat Ahmad, dishahihkan Al Mundziri)
Demikianlah para salaf dan ulama memandang bahwa niat amat penting saat seseorang hendak meminum Zamzam, berdasarkan hadits, “Air Zamzam untuk apa-apa yang diniatkan untuk meminumnya.” (Riwayat Al Baihaqi, dishahihkan oleh Al Mundziri)
Sebelum Ibnu Mubarak, Umar bin Al Khattab juga terlebih dahulu berdoa agar terhindar dari kehausan hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam Jauhar Al Munadzdzam (hal. 42).
Adalah Imam Abdul Wahhab As Sya’rani seorang ulama Mesir yang hidup di sekitar abad 9 hijriah. Beliau pernah menderita penyakit dublah (sejenis bisul) di perut. Saat itu, penyakitnya membesar hingga sebesar buah semangka. Akhirnya saat selesai thawaf, beliau meminum air Zamzam dengan niat agar Allah menyembuhkan penyakit itu.
Setelah meminum, tiba-tiba beliau merasakan panas dalam perut, hingga bisul itu pecah, gumpalan-gimpalan hitam pun keluar. Menurut beliau, para dokter tak akan mampu melakukannya. (Waqi’ Al Anwar Al Qudsiyah fi Bayan Al Uhud Al Muhammadiyah, hal. 232)
Memiliki kemampuan hafalan seperti Imam Adz Dzahabi adalah harapan Ibnu Hajar Al Asqalani. Hingga di awal mencari ilmu, beliau meminum air Zamzam dengan niat, agar keinganan beliau itu bisa terkabulkan.
Kira-kira dua puluh tahun kemudian, Ibnu Hajar kembali lagi ke Makkah dan meminum air Zamzam, dan meminta agar hafalannya lebih tinggi daripada kemampuan Imam Adz Dzahabi. Menurut As Sakhawi, banyak ulama yang menilai bahwa hafalan Ibnu Hajar melebihi Adz Dzahabi. (lihat, Jauhar Ad Durar, 1/166)
Apa yang dilakukan Ibnu Hajar diikuti oleh murid beliau Imam As Suyuthi. Saat melaksanakan ibadah haji, beliau meminum Zamzam untuk beberapa tujuan. Salah satunya agar memperoleh kemampuan dalam ilmu fikih setingkat Siraj Al Bulqini dan kemampuan dalam hadits setingkat Ibnu Hajar. (lihat, Husn Al Muhadharah, 1/338). Syamsuddin bin Ali Ad Dawudi, murid As Suyuthi menyebutkan bahwa ilmu yang diperoleh As Suyuthi telah melebihi guru-guru beliau. (Al Jauhar Al Manthiq, hal.45)
Demikian Allah memberi keberkahan yang amat besar terhadap Zamzam, hingga dengan meminumnya, doa dan niat seseorang dikabulkan Allah. Walhasil, tetapkan niat terlebih dahulu, sebelum meminum air Zamzam. [tho/hidayatullah.com]

CARE


Delapan Kunci “Menjaga” Anak

E-mail Print PDF
Selain delapan “kunci”, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya

Hidayatullah.com--Anak merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena amanah, maka kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada kita atas amanah tersebut.

Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya akan membawa bencana dunia dan akhirat.

Bukan satu dua kali kita dikejutkan dengan pemberitaan akibat ulah anak-anak kita. Seorang siswa yang sopan, tiba-tiba bisa bunuh diri. Seorang mahasiswa yang ketika di rumah kalem, tiba-tiba bisa menjadi perampok bahkan memperkosa atau membunuh teman dekatnya. Yang tak kalah mengejutkan, berita terbaru dari Jawa Timur, seorang gadis belia, sudah mampu menjadi bos mucikari dan agen pelacuran. Sungguh mengagetkan.

Ada apa yang salah dengan kita, para orangtua? Bukankah kita semua ini, adalah para sarjana dan orang-orang terdidik?

Akidah yang Benar


Sesungguhnya, agama kita (Islam) telah menetapkan banyak hal, termasuk masalah pendidikan pada anak. Ini hal yang sangat penting. Jika anak-anak memiliki akidah yang benar, maka itu lahan subur bagi tumbuhnya kebaikan-kebaikan. Tidak ada kebaikan pada diri anak yang akidahnya melenceng.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak, aku akan ajarkan padamu beberapa kalimat: Jagalah Allah pasti engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa menolongmu dengan sesuatu kecuali atas hal yang telah Allah takdirkan. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk mencelakaimu, mereka tidak bisa mencelakaimu dengan sesuatu kecuali atas yang telah Allah takdirkan, pena-pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering.” (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

Memohon Pahala


Rasulullah bersabda, “Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka baginya adalah pahala sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas’ud)

TIMING


Waktumu adalah Umurmu!

E-mail Print PDF
Tanda orang yang merugi adalah banyak berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Banyak berbasa-basi, bercanda, dan banyak bicara 
 
Dari Ibnu 'Abbas ra, Rasulullah bersabda:
وَالْفَرَاغُالصِّحَّةُ:النَّاسِ مِنَ كَثِيْرٌ فِيْهِمَا مَغْبُوْنٌ نِعْمَتَانِ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhori). (HR. Bukhori no.6412, At-Tirmidzi no.2304, Ibnu Majah no.4170, Ahmad no. I/258-344), Ad-Darimi no.II/297, Al-Hakim no.IV/306)
 
Waktu adalah ukuran zaman. Hari-hari yang kita lewati adalah umur kita. Apabila ia berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita. Waktu adalah karunia terbesar dan paling berharga bagi manusia. Waktu menjadi rahasia berbagai prestasi cemerlang bagi seseorang ketika mampu menatanya dengan seksama.
 
Mumpung seseorang masih punya kesempatan waktu muda, maka seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Masa muda sebagai waktu emas, saat masih memiliki kekuatan semangat, pikiran masih jernih, kesibukan masih sedikit, dan tekat yang kuat. Sebaliknya pada usia tua, jasad semakin lemah, beban semakin berat, penyakit sering mampir, dan kekuatan pun kian berkurang.
 
Semua bentuk tindakan, kesungguhan, kekuatan, kemuliaan, kenikmatan, dan pencapaian tujuan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika badan sehat dan adanya waktu luang. Kewajiban yang seharusnya kita tunaikan teramat banyak, sementara waktu terluang sangat terbatas. Dengan waktu pula, betapa banyak lahan yang bisa diolah, berapa banyak perusahaan yang bisa didirikan, berapa ribu orang yang bisa dibantu dan yayasan yang bisa dikembangkan. Namun betapa banyak pula yang sudah puas dengan sedikit kualitas, sudah bangga dengan amal yang belum ada apa-apanya.
 
Tidaklah Allah bersumpah dalam al-Quran dengan meggunakan kata waktu, wal-‘ashri, wad-dhuha, wal-laili, bis-syafaqi, wal-fajri, dan sebagainya, kecuali semuanya mengisyaratkan tentang betapa pentingnya waktu. Dimaksudkan agar manusia disiplin penuh perhatian terhadap masa hidupnya. 
 
Waktu yang Allah berikan kepada kita lebih berharga daripada emas karena ia adalah kehidupan itu sendiri. Seorang Muslim tidak pantas menyia-nyiakan waktu luangnya untuk hanya bercanda, bergurau, main-main, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena ia tidak akan pernah mampu mengganti waktunya yang telah berlalu. Siapa yang mengabaikan waktunya, maka semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana kerugian orang sakit, dia merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.
 
Seorang Muslim yang pada dirinya terkumpul dua nikmat ini, yakni kesehatan badan dan waktu luang, maka hendaknya menunaikan hak keduanya untuk melakukan ketaatan dan meraih kedekatan kepada-Nya. Tapi jika menyia-nyiakannya maka sebenarnya ia adalah manusia yang tertipu. Sebab, kesehatan akan digantikan dengan sakit dan waktu luang akan digantikan dengan kesibukan. Sebagaimana seorang pedagang yang memiliki modal, yaitu kesehatan dan waktu luang, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan modalnya yang ada padanya selain ketaatan kepada Allah.
 
Seseorang yang memiliki badan yang sehat tanpa menggunakannya untuk tindakan yang berguna dan tidak pula berbuat untuk akhiratnya adalah orang yang merugi. Dalam kenyataan memang kebanyakan manusia tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang. Mereka malah membuang usia dan mempermainkan umur. Kadang-kadang manusia juga tidak memiliki waktu luang. Waktunya habis hanya untuk mencari makan dan kebutuhan periuk nasi. Sebaliknya terkadang memiliki waktu luang namun badannya sakit, jiwanya juga sakit, malas, loyo, tidak bergairah yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan.