Semoga Perniagaanku Bisa Menyelamatkan dari Azab
Inilah perniagan sebenarnya. Perniagaan yang bisa menyelamatkan dari azab pedih
Hidayatullah.com--Sepertiga malam. Dunia masih gelap. Hanya terdengar suara jarum jam di dinding masjid “tik…tak…tik..tak” berputar meniti detik demi detik. Hening. Tak ada suara. Manusia lelap dalam peraduan. Bunga tidur yang semerbak membuai tidur mereka. Di tengah ke sunyian, di atas sajadah, aku benamkan sujudku yang dalam. Khusuk. Sebait rintihan yang menghujam di dalam dada. “Ighfirli zunuubi, ya rabbi”. Aku merapal doa itu sambil merintih. Kontan, doa itu menyeruak mengisi setiap relung hatiku.
Perlahan tapi pasti, doa itu keluar dari bibirku yang basah. Bulir-bulir putih tak terasa mengalir membasahi pipi. Mataku sembab. Hatiku gerimis. Isak tangisku semakin menggema memecah keheningan. Lalu hilang ditelan sunyi.
Dengan air mata yang masih mengalir, aku bangkit di rakaat ke dua. Suara serakku mencoba membaca QS. As-Shaf. Sejenak, aku berhenti di ayat ke- 10 dan 11. Mendadak, sesuatu menghenyak jiwa. Ayat yang terdapat di surat ke-61 dalam kitab suci umat Islam itu membuatku terpekur, teringat sesuatu di masa silam.
Yah, tentang perniagaan. Sebuah perniagaan yang bisa menyelamatkan dari azab pedih. Perniagaan yang didasari iman kepada Allah dan rosul-Nya serta jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) dengan harta dan jiwa. Itulah yang membuatku tersentak. Ibarat file komputer yang dibuka kembali. Kenangan hidup sepuluh tahun silam terkuak lebar.
Ketika itu, ayat ini pernah saya dengar dari seorang ustadz sewaktu belajar di pesantren dekat rumah di Blitar, Jawa Timur. Sejak itulah, lembaran hidup baru saya buka mengganti lembara lama yang penuh kelabu.
Status yatim ketika itu membuatku bernafsu mengejar dunia. Mengumpulkan dunia dengan perasan keringat dan bantingan tulang. “No time without money,” itulah falsafah hidup. Falsafah materialis. Tapi, itu terlampau jauh. Bagiku falsafah itu sekedar bentuk kemarahanku pada nasib, pada takdir tuhan yang memanggil ayahku di waktu kecil. Karena takdir itu pula, aku harus berjuang mati-matian, mengorbankan masa kecilku untuk sekedar membuat perut ibu dan saudaraku kenyang. Membuat mereka tidur lelap. Dan membiarkan mereka tetap tersenyum. Ya, itulah takdirku ketika itu.